Burung Gereja

Manusia Rp. 1.000,-

with one comment

Seorang pekerja bekerja keras tanpa mengenal lelah. Setelah pekerjaannya selesai ternyata orang lain yang mendapatkan nama. Atau tentang kerja keras buruh bangunan untuk kemudian sang arsitek yang mendapatkan nama tenar. Hal ini jamak terjadi dalam kegiatan sehari-hari. Dan semua orang dan dari semua golongan pernah merasakan ini.

Manusia seribu rupiah saya menyebutnya. Seperti kita saat ini memberikan uang seribu rupiah kepada pengemis. Pengemis yang dalam perjalanan tidak pernah kita perhatikan. Tanpa nama, penghargaan maupun ketenaran. Tetapi ada pula yang memperhatikan manusia seribu rupiah.

Salah satunya adalah Romo Mangun, arsitek, budayawan dan rohaniwan. Dia membayar seorang tua yang tidak memikul batu untuk meluruskan paku bengkok. Nah lho, ngapain lagi paku bengkok diluruskan? Membuang paku itu lebih efisien dan efektif daripada membayar orang untuk meluruskannya. Hitungan untung rugi memang tidak manusiawi untuk manusia seribu rupiah.

Contoh lain, Mother Theresa seorang yang berasal dari keluarga berkecukupan. Meninggalkan kenyamanannya untuk merangkul dan merawat fakir miskin di Kalkuta, mereka yang termasuk manusia seribu rupiah.

Bisa jadi Anda termasuk dalam kelompok ini, yang dipandang rendah. Entah karena paras yang kurang, kepandaian minim dan kekurangan lainnya. Manusia seribu rupiah pun adalah suatu kondisi. Tidak direkayasa, tetapi Anda terjebak di dalam situ. Apa yang harus dilakukan?

Tersenyumlah – baca (Smile and The World will Smile with You!) karena hidup membutuhkan arti. Andalah yang menentukan harga. Berilah nilai atas pengorbanan dan penderitaan Anda. Mahatma Gandhi pun rela hidup dalam kesederhanaan untuk menyebarkan pesan damai. Seorang pengacara meninggalkan harganya untuk memberikan damai bagi India. Beranikah Anda membuat harga untuk diri sendiri?

Written by Cayadi

Agustus 15, 2007 pada 7:59 am

Ditulis dalam Renungan

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Harga / Bandrol pada diri sendiri akan datang dengan sendirinya sesuai dengan kemampuan dan kecakapan yang dimiliki. Tetapi Keahlian Belum Cukup Buat Memasang Bandrol… Kesempatan – waktu dan tempat lingkungan berada akan lebih dominan…

    rivafauziah

    Agustus 17, 2007 at 8:05 pm


Tinggalkan Balasan