Burung Gereja

Infotainment hidup Anda

tinggalkan komentar »

Tayangan infotainment memang menggugah selera. Kehidupan artis dan segala kecukupan (istilah halus untuk kemewahan?> hidupnya. Anda bisa ternganga dan dalam hati berkata, “Aku juga ingin gaya hidup seperti mereka”. Bagaimana tidak? gaya profesional, mobil yang dikendarai, isi rumah yang dimiliki – duh itu semua bagus sekali.

Anda mulai menjadi bayangan mereka. Anda tiru gaya berpakaian, gaya bicara, mobil yang dikendarai, mungkin dekorasi rumah yang digunakan. Artis favorit Anda ganti model rambut, Anda pun ikut. Dan itu karena “gaya hidup” yang ditampilkan produser tayangan infotainment.

Bayangan untuk selamanya tetap menjadi bayangan. Dan saat sinar matahari menghilang, entah karena artis tersebut sudah kehilangan pamor atau yang lainnya. Dan bayangan akan mencari obyek lain.

Tetapi Deutsche Welle (siaran TV Jerman) memberikan nuansa lain. Mereka memiliki lifetainment. Tokoh utamanya bukan artis atau orang terkenal yang glamour. Tokohnya mungkin adalah seorang dokter hewan di sebuah desa terpencil. Atau mungkin seorang ahli kimia yang bekerja untuk dinas kesehatan mereka.

Ya benar, hanya dengan perbedaan kecil – yaitu siapa pemerannya. Tetapi di situ ada sisi menarik. Diperlihatkan bagaimana mereka memiliki hidupnya sendiri. Mereka menjalankan nilai hidupnya sendiri. Jamin, bila lifetainment itu diperhatikan – Anda akan berniat untuk membuat film sendiri tentang kehidupan Anda.

Sebuah film yang memiliki setting kehidupan nyata. Efek suara alami; bisa suara bajaj, kicau burung, klakson mobil ataupun suara angin. Tata cahaya kamera pun cukup bagus – sinar matahari atau lampu 15 watt di kamar Anda.

Dengan setting itulah Anda membuat skenario cerita. Mungkin tentang seorang office boy yang tinggal di Tangerang dan bekerja di kawasan elit Jakarta. Mulai dari bangun pagi, sarapan indomie, lari pagi untuk mengejar bus, sampai di kantor dan menjalankan hidup sehari-hari.

Lalu Anda tambahkan nilai-nilai hidup Anda. Cerita betapa kesulitan harian itu menjadi musik yang merdu. Anda tetap tersenyum meskipun Bos marah-marah. Atau cerita bahwa setiap akhir bulan Anda harus main basket atas gaji bulanan, yaitu membayar hutang ke warung, abang rokok, atau sewa bulanan kamar kost. Dan atas itu Anda tetap memiliki kegembiraan dan syukur.

Menarik untuk menonton lifetainment yang nyata. Tayangan yang menyentuh seluruh pemirsa. Tayangan yang berasal dari kehidupan pemirsa, yaitu Anda. Mengapa menunggu? Buatlah hidup Anda menjadi lifetainment bagi tetangga, rekan kerja, pasangan maupun anak. Kata sebuah iklan, “Hidup lebih hidup”.

Written by Cayadi

Agustus 18, 2007 pada 11:23 am

Ditulis dalam Renungan

Tinggalkan Balasan