Orang suci pun mengalami kematian
Kata kematian membuat orang sedih. Coba pikir manusia mana yang tidak mati. Sepasti kelahiran yang selalu terjadi. Bahkan orang sucipun mengalami kematian. Konon inilah yang dicari filsafat dan turunannya. Untuk menemukan apa yang dicari dalam hidup.
Plato dan Aristoteles mendalami hal ini. Mungkin kawan-kawan nanti ada yang mau menulis tentang mereka. Topik ini muncul beberapa kali pengalaman minggu ini. Sekali saat orang tua dan mereka yang saya kenal sakit. Lalu kemarin saat saya menghibur sebuah keluarga di RS Bhakti Asih.
Saya datang ke RS Bhakti Asih untuk mendoakan Ibu mereka yang koma. Ibu ini mengalami stroke dua tahun. Dan saat sang anak mau pindah rumah, Ibunya mengalami sesak nafas. Sambil mendoakan sang ibu sesekali terdengar suara dari mulutnya. Belum selesai kami berdoa Tuha telah memanggil dia.
Baru kali itulah saya menemani seorang yang menjelang ajal. Kematian tidak dapat dihindari. Lalu apa yang terjadi setelah itu? Selesai atau masih ada cerita lain. Mungkin karena tidak tahu maka banyak orang takut kematian. Penyakit biasanya menjadi salah satu cara untuk menuju kematian.
Ada juga cara lain seperti bunuh diri. Semoga bukan ini yang menjadi tren (ingat seorang ibu yang terjun bersama anaknya). Logikanya mungkin dengan mati masalah dapat selesai. Memang benar bila masalahnya tentang hidup itu sendiri. Bagaimana menyikapi kejadian alami ini?
Seorang yang hidup dalam kesucian rohaninya pun akan mati. Yang berbuat baik seumur hidupnya pun akan mati. Beberapa agama memiliki versi yang berbeda. Reinkarnasi, kehidupan kekal, surga atau neraka. Itulah pilihan yang dapat diambil. Anda dapat memilih yang mana saja. Cari caranya untuk mencapai pilihan dan jalankan selama masih hidup.
Syukurlah kita punya Juru Selamat.
Amin mas Dewo.
agamaku
Agustus 30, 2007 at 4:45 pm
Cahyadi,
Sikap orang umum terhadap kematian dan kelahiran pada umumnya bertentangan dengan orang yang mengalami sendiri. Ketika seorang bayi lahir, semua orang di sekitarnya bersuka cita, padahal bayi tersebut menangis meraung-raung.
Ketika meninggal, banyak yang meninggal kelihatannya tenang dan damai, tetapi orang yang ditinggalkannya menangis penuh dengan kesedihan.
Gejala apakah ini?
Beni Bevly
Agustus 30, 2007 at 11:00 pm
@cayadi
“Anda dapat memilih yang mana saja. Cari caranya untuk mencapai pilihan dan jalankan selama masih hidup.”
Setuju mas..
@Beni Bevly
Bisa aja sih kita cari apa dibalik ‘gejala’ itu semua.. Tapi buat saya, rasanya, gak perlu berspekulasi soal itu.. mungkin tidak ada apa-apa dibalik ‘gejala’ itu.. karena memang sudah alamiahnya begitu..
yesusmanusia
Desember 28, 2007 at 4:57 pm