Naik KRL AC Serpong pantat harus cepat
KECEPATAN GERAKAN PANTAT ANDA MENENTUKAN POSISI. Pemandangan yang setiap sore dapat membuat tersenyum. Entah karena ini KRL AC atau karena faktor fisik penumpang jenis KRL ini. Setiap kali masuk selalu pantat yang didahulukan. Agar mendapat tempat duduk.
Pagi ini tadi saya mencoba naik KRL Ekonomi. Tarif 1.500 sudah mencapai Jakarta. Cukup padat juga, mengingat ini adalah hari cuti bersama nasional. Namun yang menarik adalah pemandangan dan pola mencari tempat duduk.
Ada seorang ibu yang masuk terlambat. Lalu seorang anak muda menawarkan tempat duduknya. Ini wajar, di KRL AC juga saya melihat atau melakukan itu. Namun setelah itu ada seorang ibu yang lebih tua menawarkan tempat duduk kepada ibu yang lebih muda. Nah ini yang tidak biasa.
Kalau dilihat sepintas – situasi yang berbeda terasa. Tidak mau mengalah itu dapat dilihat sangat jelas di KRL AC dengan tarif 8.000. Kerelaan berkorban malah terlihat di KRL Ekonomi. Apakah ini memang fenomena masyarakat kita? atau sekedar kebetulan. Lain dengan kata teman di BenBego’s, melihat KRL di Jepang dia memilih untuk tidak turun.
Bila memang ya, wajar saja semakin tinggi jabatan semakin serakah dan korup.
PS: hari ini sih saya berdiri lagi.
Ohh…pantat dalam konteks ini berfungsi seperti bumper mobil ya ?
Tulisan komikal yang segar ini ringkas sekali, namun cukup berhasil memotret secara close-up beberapa fragmen kehidupan sosial kita di perjalanan.
Apakah ada kaitan kelas sosial dengan tingkat kepedulian? Mungkin juga ada, karena semakin tinggi kelas sosial seseorang dia lebih mengandalkan akal dalam berinteraksi dengan orang lain, sebaliknya kalangan bawah mengikuti kata hati saja.
salam kenal
RM
http://ayomerdeka.wordpress.com/
Robert Manurung
Januari 22, 2008 at 9:28 am