Karakter Pemimpin seperti inikah?
Sore hari ini melintasi salah satu perumahan di daerah tangerang. Mata tertumbuk ke satu spanduk, bunyinya “Ngapain pilih yang sejenis? Lebih lengkap yang sepasang”. Persaingan antara pasangan calon gubernur dan wakil gubernur terlihat (dalam arti harafiah) saling menjatuhkan. Saya tahu siapa yang dianggap sejenis – terlebih imajinasi saya mengartikan itu sebagai homo atau lesbian. Dunia dagang sudah parah, iklan saling membantai demikian juga dalam politik.Definisi politik memang masuk ke dalam semua sendi hidup. Negarawan pasti berpolitik, pegawai negeri juga ada sebagian unsur politik, karyawan swasta pun harus menggunakan politik. Nah kok jadi begini? Namun apa benar bila mau menjadi pemimpin harus menjatuhkan?
Pikiran saya hanya bertanya, “memang salah kalau sejenis atau sepasang?”. Kenapa tidak selusin (satu lusin) saja lebih lengkap. Jadi kalau ada pertandingan antar gubernuran bisa langsung satu tim. Intinya bukan pada jenis kelamin, jumlah orang atau hal lainnya. Namun ketulusan dalam melayani rakyat yang lebih butuh.
Ngomong-ngomong dinding bertelinga, Anda pasti tahu siapa pasangan yang merasa diri lengkap ini. Iklannya ada di TV kalau tidak salah.
Komentar ah:
Kalau selusin malah remuk mas negara iki. entek kabeh dipangan pejabat. lha wong sekarang cuman sepasang aja banyak kekayaan negara yang diembat apalagi kalau selusin, njur arep mangan apa wong cilik.
politik harusnya identik dengan kesejaahteraan bersama bukan kekuasaan. tapi politik di negara sampeyan iki, wah ora nggenah. isinya hanya saling menjatuhkan. bener sampeyan.
salam kenal sik yoo dab.
FraterTelo
Januari 17, 2008 at 1:46 pm