Nilai bekerja adalah pada tujuannya
AKU TIDAK PUAS DENGAN PEKERJAANKU – sebuah benturan nilai dengan kondisi nyata. Mungkin karena situasi pekerjaan monoton, membosankan, mengesalkan, dan menekan. Dan semuanya karena kita berhubungan dengan manusia lain. Entah mereka sebagai pemberi pekerjaan, atasan, bawahan dan rekan kerja. Bekerja itu sebaiknya melihat tujuannya.
Tanpa nilai sebuah tujuan bekerja dapat sangat melelahkan. Pemberi kerja yang sering merubah permintaannya merupakan salah satu penyebab. Namun, bayangkan bila perubahan itu terjadi di kegiatan sosial untuk membantu korban bencana alam, alam menjadi pemberi kerja. Konteksnya adalah perubahan, namun dapat kita maknai berbeda. Yang pertama, karena berhubungan dengan manusia “rewel”, pasti melelahkan. Yang kedua, karena kita mau menolong sesama. Tujuan kedua lebih memiliki nilai.
Lalu bagaimana bekerja dengan orang “rewel” tidak memiliki sebuah nilai? Kembalilah ke nilai yang paling mendasar, yaitu untuk apa kita hidup. Bekerja bila hanya untuk makan dan mengumpulkan kekayaan dapat menambah kemungkinan terkena stroke. A. Roger Miller dalam bukunya First Thing First lebih memilih, “Pekerjaan yang muncul dari nilai-nilai”. Orientasi pekerjaan membuat sulit melihat manusia, sehingga sering mengabaikan sisi kemanusiaan. Kerjaan tidak beres, ya salah di manusianya. Berbeda bila bekerja dengan orientasi manusia, hubungan yang terjalin malah memberi kelancaran usaha.
Lalu mana yang benar? bekerja dengan manusia lain berbenturan, tetapi pekerjaan dengan orientasi manusia dianggap yang terbaik.