Burung Gereja

Tukang cukur itu menolong dari kekurangannya

with 2 comments

TUKANG CUKUR ITU SEDANG DUDUK DI DEPAN – sore tadi saat melewatinya hari menjelang gelap. Cuaca juga sedang mendung. Mungkin karena sedang tidak ada yang memotong rambut dia menunggu di depan. Memang sudah keinginan bahwa sore ini harus potong rambut. Penampilan harus diperhatikan.

Ruangan cukur bukanlah tempat mewah yang ber AC. Namun cukup untuk mencari nafkah. Pak Atang namanya, saat masuk saya bertanya, “Sepi Pak?”. Pertanyaan retoris untuk mencairkan suasana maksud saya. “Iya memang mungkin karena sudah potong rambut semua pak”. Saya mulai duduk dan dia mulai memotong rambut saya.

Pembicaraan mulai dibuka, dengan topik keluarga, dulu bekerja di mana dan bagaimana cerita hidup dia. Ternyata pertanyaan sederhana tadi memberikan hasil yang mengejutkan. Atang merupakan anak ke-6 dari 10 bersaudara. Dia hanya tamatan SMP karena tidak memiliki biaya. Hanya anak sulung yang sempat menyelesaikan sekolah dan sekarang menjadi pegawai negeri di Karawang. Sayangnya, kakak sulung tersebut lupa keluarga – lebaran kemarin pun pulang setelah dua bulan masa lebaran.

Atang bercerita bagaimana pedih hidupnya. Saat muda berangkat dari Garut ke Bandung. Tujuannya hanya satu yaitu menyambung hidup. Di sana dia belajar untuk potong rambut – bukan dengan kursus seharga 2 juta seperti di Serang. Namun berdiri selama dua minggu di luar tempat cukur rambut. Ya, hanya mengamati – tanpa ada kursus. Lalu dengan modal 20 ribu membeli perkakas cukur dari seorang tukang cukur tua. Itu awal karirnya.

Namun ada yang menyentuh saat dia bercerita. Betapa dengan minim kemampuan telah 15 orang yang dia didik dengan keahlian tukang cukur. Sebagian besar murid adalah pemuda di Garut yang dia beri makan dan training mencukur gratis. Kini sebagian besar telah berkeluarga dan bekerja sebagai tukang cukur. Dia memberi dari kekurangannya, kursus potong rambut tanpa meminta biaya.

Saya tanya, “Kenapa Bapak mau mendidik pemuda di Garut tanpa bayaran?” – dengan sederhana dia mengatakan, “Saya tidak suka melihat pemuda nganggur”. Dia memberi dari kekurangannya, hanya keahlian mencukur yang dia punya – dan itu yang dia berikan.

Written by Cayadi

Januari 30, 2008 pada 9:47 pm

Ditulis dalam Pesan

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. assalamualaikum. saya tinggal dijakarta kebetulan sedang mencari orang yang dapat melatih pangkas rambut. Mungkin Mamang bisa beri tahu alamat Bapak tukang cukur tsb dan rute bis kalo saya dari jakarta. Ke Email saya. terima kasih

    rahardian

    Desember 5, 2008 at 10:29 pm

  2. Bismillah,-

    Saya juga mau tolong dong minta alamat lengkapnya Pak Atang nama saya Eddy 0878 7199 0094 / eddybapone@plasa.com

    abi

    Mei 7, 2009 at 3:02 pm


Tinggalkan Balasan