Cinta yang hilang
CINTAILAH PASANGANMU – rasa cinta itu setiap hari selalu muncul, saat dulu kami berpacaran. Setiap hari ingin bertemu, meskipun hanya untuk melihat wajahnya. Hati pun setiap saat selalu bahagia, meskipun hanya dari mendengar suaranya. Namun sekarang setelah menikah dan Tuhan memberi anugerah anak? He … he … he …, rasa itu pindah kepada anak.
Saya perlu mengakui ada yang berbeda setelah kami menikah dan mendapat titipan anak dari Tuhan. Rasa (baca: cinta) itu setiap hari hanya untuk anak. Peluk dan cium hanya untuk anak. Sampai dua hari yang lalu, ada suara yang berkata, “Ah, lain dulu lain sekarang”. Seorang teman juga berkata, “Setelah menikah hubungan pacaran berubah menjadi hubungan pertemanan”.
Lalu kemana rasa untuk istriku? Bukankah seharusnya saat sekarang ini seharusnya lebih me-luap-kan rasa itu daripada me-lupa-kan? Dia rela ber-mutasi dari langsing menjadi langsung (karena melahirkan), setiap hari dia selalu tertawa, tidak pernah menyimpan masalah terlalu lama, menjaga dan merawat anak, masih aktif sebagai ibu RT, melayani gereja, membangun kelompok doa ibu-ibu – dan itu dilakukan dengan penuh tawa.
Kurang apa dia sebagai pasangan hidup? Untuk itulah saya berkata kemarin, “Ah betapa aku jarang melihat engkau sebagaimana adanya – aku cinta kamu”. Memang tidak seluruh pasangan Anda seperti dia.
Lihatlah kebaikan daripada keburukan, lihatlah pengorbanan daripada permintaan, lihatlah masa lalu juga selain masa kini. Tuhan adalah sosok yang maha segala-galanya, toh dia masih melayani dan memperhatikan ciptaannya. Sikap yang dibutuhkan dalam keluarga.
Ada sebuah doa Katolik yang dibuat oleh St. Fransiskus dari Asisi, Doa Damai. Doa yang memiliki kekuatan untuk membawa cinta yang hilang.
The Peace Prayer
Lord, make me an instrument of Thy peace;
Where there is hatred, let me sow love;
Where there is injury, pardon;
Where there is error, the truth;
Where there is doubt, the faith;
Where there is despair, hope;
Where there is darkness, light;
And where there is sadness, joy.
O Divine Master, Grant that I may not so much seek
To be consoled, as to console;
To be understood, as to understand;
To be loved as to love.
For it is in giving that we receive;
It is in pardoning that we are pardoned;
And it is in dying that we are born to eternal life. Amen.
Doa Damai
Tuhan, Jadikanlah aku pembawa damai,
Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa damai;
Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan;
Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan;
Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian;
Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran;
Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku sumber kegembiraan;
Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang;
Tuhan semoga aku ingin
menghibur dari pada dihibur;
memahami dari pada dipahami;
mencintai dari pada dicintai.
Sebab dengan memberi aku menerima;
dengan mengampuni aku mengampuni;
dengan mati suci aku bangkit lagi, untuk hidup selama-lamanya. Amin.
wkawkawkawka
Rian Arifianto
Oktober 22, 2008 at 1:52 pm
Hallo mas cayadi, saya hanya mau menanggapi, saat mas menulis hal ini pernahkan mas cayadi berpikiran bahwa isteri anda mungkin bisa membaca tulisan ini, lalu bagaimana perasaannya, karena menurut saya sungguh tidak adil mempublikasikan hal seperti ini di tempat yang begini
karena seharusnya hal itu dibicarakan berdua untuk mempererat rasa yang sudah Tuhan percayakan kepada anda berdua, bukan untuk konsumsi umum.
salam,
Diana (seorang isteri)
diana
Mei 15, 2009 at 8:48 am
mbak Diana terima kasih atas komentarnya. saya memang ingin berbagi beberapa hal dalam hidup saya, dan bila menjadi konsumsi umum – artinya saya memberi kesaksian iman kepada pembaca tentang bagaimana seharusnya suami melihat istri mereka, yaitu mencintai istrinya.
Cayadi
Mei 20, 2009 at 11:32 pm
yah… seharusnya para suami lebih sadar, betapa beratnya tugas menjadi seorang istri…,
Dan harus ingat.. karena bagaimanapun juga keluarga yang telah di satukan oleh Allah tdk boleh di cerai beraikan oleh manusia. (tdk terkecuali dengan dalih apapun).
Prasetio
Oktober 12, 2009 at 3:24 pm